BAB I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakag
Diera
moderen ini,dimana semua alat komunikasi semakin cangih dan praktis.Munculnya
internet di dunia yang membawa perubahan besar bagi dunia komuikasi dan
langsung membawa teknologi terus maju ke depan. Google dan Youtube merupakan
situs internet yang sering dilihat oleh banyak orang untuk mencari berbagai hal
mulai dari kebutuhan sekolah, kuliah, music, film, juga video atau sosok yang
ingin diketahui. Sebelum internet masuk, sumber pencarian data mungkin hanya
buku saja atau hanya media konvensional lainnya seperti Koran, majalah, dan
lain-lain. Setelah adanya internet, kebiasaan browsing kemudian menjadi
popular, mampu memudahkan orang mencari tahu berbagai hal. Banyak orang
memanfaatkan situs internet ini untuk kepentingannya seperti online shop. Madia
konvensional juga tidak mau kalah bersaing mereka juga membuat situs web atau
e-paper. Kehadiran konvergensi media ini dapat merubah segala bidang kehidupan.
Namun
digitalisasi tetap menjadi kunci penentu pada semua kegiatan dan juga produk
konvergensi media. Internet merupakan contoh yang paling mudah jika ingin
melihat perubahan distribusi dan konvergensi media. Internet berbeda dengan
media konvesional. Internet tidak hanya menyambungkan satu dengan point dengan
satu point lain. Tapi juga dari satu point ke banyak point, menyambungkan
individu dengan individu juga antara individu dengan orang banyak. Dan kita
bisa melihat kontribusi yang ditawarkan
dengan adanya konvergensi media ini.
1.2 Rumusan
masalah
Berdasarkan
uraian di atas maka rumusan masalah dapat di uraikan sebagai berikut,Bagaimana dampak perubahan media
digital yang sudah terkonverensi ?
1.3Tujuan
Berdasarkan
uraian masalah di atas maka tujuannya
dapat diketahui sebagai berikut :
1.
Mengetahui apa itu konvergensi media .
2.Mengetahui
perkembangan konvergensi media.
3..Mengetetahui
dimensi-dimensi konvergensi media.
4.
Mengetahui keuntungan dan kerugian dari konvergensi media.
BAB II
Pembahasan
A.
Pengertian konvergensi
Konvergensi
berasal dari bahasa Inggris yaitu convergence. Kata konvergensi merujuk pada
dua hal atau benda atau lebih bertemu dalam satu titik (Arismunandar,2006:1).Konvergensi
media sendiri merupakan Penggabungan atau pengintegrasian media-media yang ada
untuk digunakan dan diarahkan ke dalam satu titik tujuan. Istilah konvergensi
mulai banyak digunakan sejak tahun 1990-an. Kata ini umum dipakai dalam
perkembangan teknologi digital, integrasi teks, angka, gambar, video, dan suara
(Briggs dan Burke, 2000: 326).Konvergensi menyebabkan perubahan radikal dalam
penanganan, penyediaan, distribusi dan pemrosesan seluruh bentuk informasi baik
visual, audio, data dan sebagainya (Preston, 2001).
B.
Perkembangan Pers, Internet, dan Kovergensi Media
Jurnalistik
pada dasarnya berkaitan erat dengan pers, namum memiliki perbedaan. Dalam arti
sempit, pers hanya digolongkan sebagai produk penerbitan yang melewati proses
percetakan. Pers dalam arti luas adalah meliputi pelbagai kategori dan jenis
media massa, baik suratkabar, radio, televisi, film, dan sebagainya.
Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa ”jurnalistik” adalah bentuk komunikasinya,
bentuk kegiatan dan bentuk isinya, sedangkan ”pers” adalah medium tempat
jurnalistik disalurkan/dipublikasikan. Jika dilihat dari hasil akhirnya,
”jurnalistik” adalah adalah hasil kegiatan pengolahan informasi yang akan
disampaikan berupa berita, reportase, feature, dsb, maka ”pers” adalah
suratkabarnya, majalahnya, televisinya, atau internetnya. Singkat kata pers
adalah medianya, sedangkan jurnalistik adalah isinya (Muhtadi, 1999; Sumadiria,
2005; Kusumaningrat dan Kusumaningrat, 2005).
Industri
pers terkait erat dengan perkembangan teknologi komunikasi, publikasi, dan
informasi. Antara tahun 1880-1900, terdapat berbagai kemajuan dalam industri
pers. Yang paling menonjol adalah mulai digunakannya mesin cetak cepat,
sehingga deadlinepenulisan berita menjadi lebih panjang dan bisa ditunda
hingga malam hari. Selain itu, teknologi fotografi memungkinkan ditampilkannya
foto pada halaman-halaman suratkabar. Perkembangan
selanjutnya dari penemuan ini adalah teknologi cetak yang dapat mencetak kertas
sampai ribuan lembar setiap jam. Proses percetakan menggunakan metode typesetting, yakni
huruf yang akan dicetak disusun sedemikian rupa sehingga menghasilkan hasil
cetakan seperti yang diperkenalkan pertama kali oleh Gutenberg. Pada periode
1860-an merupakan tahun ditemukannya litography, yaitu proses percetakan
dengan cetakan bahan kimia dan menggantikan metode sebelumnya, yaitu engraving. Di
sisi lain, teknologi percetakan fotografi pun mengalami perkembangan dengan
prosesphotoengraving yaitu dengan mencetak suatu gambar secara kimia
melalui lempengan besi dengan proses fotografis. Setelah Perang Dunia II,
proses percetakan menggunakanoffset printing. Teknologi ini digunakan
terus menurus sampai saat ini karena kualitas, kecepatan, dan dari sisi
pembiayaan lebih ekonomis (Straubhaar & La Rose, 2006; Fidler, 2003).
Pada
1893, untuk pertama kalinya surat-suratkabar di AS menggunakan tinta warna
untuk komik dan beberapa bagian di koran edisi Minggu. Pada 1899 mulai
digunakan teknologi merekam ke dalam pita, walaupun belum banyak digunakan oleh
kalangan jurnalis saat itu. Pada 1920-an, suratkabar dan majalah mendapatkan
pesaing baru dalam pemberitaan, dengan maraknya radio berita. Namun demikian,
media cetak tidak sampai kehilangan pembacanya, karena berita yang disiarkan
radio lebih singkat dan sifatnya sekilas. Baru pada 1950-an perhatian
masyarakat sedikit teralihkan dengan munculnya televisi. Namun kemunculan
televisi tidak sampai “mematikan” media yang lain. Jadi dapat dikatakan,
munculnya radio tidak mematikan media cetak, demikian juga munculnya televisi
tidak menghentikan kegemaran orang mendengarkan radio. Ketiga jenis media itu
memiliki karakteristik tersendiri dengan kelebihan dan kelemahan masing-masing
sehingga saling melengkapi. Inilah yang menyebabkan ketiga media itu sanggup
bertahan bersama-sama secara harmonis (Rivers, dkk, 2003).
Perkembangan
teknologi komputer yang sangat pesat pada era 1970-1980 juga ikut mengubah cara
dan proses produksi berita. Selain deadline bisa diundur menjadi lebih panjang,
proses cetak, copy cetak yang bisa dilakukan secara massif, perwajahan, hingga
iklan, dan marketing mengalami perubahan sangat besar dengan penggunaan
komputer di industri media massa. media cetak mengalami perubahan besar dalam
proses produksi. Mesin ketik yang tadinya dipergunakan secara luas untuk
menghasilkan tulisan, mulai digantikan oleh komputer. Melalui
komputer, media cetak tidak hanya menghasilkan tulisan yang dapat diubah tanpa
membuang-buang kertas namun juga dapat mengubah suatu gambar atau foto. Hasil
kerja yang berbentuk softcopy tersebut, kemudian dicetak. Hal ini
tentu saja berpengaruh terhadap efisiensi biaya produksi (Straubhaar & La
Rose, 2006).
Memasuki
era 1990-an, penggunaan teknologi komputer tidak terbatas di ruang redaksi
saja. Semakin canggihnya teknologi komputer notebook yang sudah dilengkapi
modem dan teknologi wireless, serta akses pengiriman berita teks,
foto, dan video melalui internet atau via satelit, telah memudahkan wartawan
yang meliput di medan paling sulit sekalipun. Selain itu, pada era ini juga
muncul media jurnalistik multimedia. Setiap media dan kantor berita juga
dituntut untuk juga menggunakan internet ini agar tidak kalah bersaing dan demi
menyebarluaskan beritanya ke berbagai kalangan. Setiap media cetak atau
elektronik ternama memiliki situs berita di internet, yang updating datanya
bisa dalam hitungan menit. Ada juga yang masih menyajikan edisi internetnya
sama persis dengan edisi cetak.
Di
sisi lain, pada tahun 2000-an, berkat perkembangan teknologi web yang pesat,
muncul situs-situs pribadi yang juga memuat laporan jurnalistik pemiliknya.
Istilah untuk situs pribadi ini adalah weblog dan sering disingkat
menjadi blog saja. Memang tidak semua blog berisikan laporan jurnalistik. Tapi
banyak yang berisi laporan jurnalistik bermutu. Senior Editor Online Journalism
Review, J.D Lasica pernah menulis bahwa blog merupakan salah satu bentuk
jurnalisme dan bisa dijadikan sumber untuk berita. Meski tentunya masih
diperdebatkan karena harus memenuhi beberapa syarat.
Internet
pada dasarnya adalah sistem jaringan antar komputer. Konsepnya adalah
menjadikan personal komputer (PC) yang terdapat di seluruh dunia baik
di rumah-rumah maupun di kantor sebagi terminal komunikasi serba guna yang
dapat digunakan untuk menerima ataupun mengirim sinyal seperti suara, gambar,
dan data (Ishadi, 1999).
Internet
sebagai salah satu kata kunci yang memainkan peran penting dalam pembentukan
media baru juga ditegaskan oleh pernyataan Don Tapscott, direktur Alliance of
Converging Technologies, sebagai berikut :
The
traditional media of the fourth estate (originally called ‘the press’) are
converging with computing and telecommunications to create nothing less than a
new medium of human communications –with the Net at its heart (Tapscott,
dalam Dalam Riley, Patricia,et.al,Error! Hyperlink reference not valid.).
Media
baru tersebut muncul dengan sifatnya yang semakin canggih. Karakteristik volume
informasi dan pesan yang disampaikan semakin besar dan menjangkau seluruh
dunia. Media baru yang dimaksudkan di sini tidak terbatas hanya pada media
interaktif saja, tapi juga seluruh media konvensional yang ada. Berkat
kecanggihan teknologi, media baru ini mampu menyebarkan seluruh kejadian ke
seluruh penjuru dunia pada saat yang sama. McQuail (2004) merumuskan ciri-ciri
media baru tersebut, antara lain :
1.Desentralisasi:
pengadaan dan pemilihan berita/informasi tidak lagi sepenuhnya berada di tangan
pemasok komunikasi.
2.Berkemampuan
tinggi: pengantaran melalui media kabel dan satelit mengatasi hambatan
komunikasi yang disebabkan oleh pemancar siaran lainnya.
3.Bersifat
interaktif: setiap pelaku komunikasi yang terlibat didalamnya dapat melakukan
proses komunikasi timbal balik, dimana mereka dapat memilih, menjawab kembali,
menukar informasi dan dihubungkan dengan yang lainnya secara langsung.
4.Fleksibel:
fleksibel dalam hal ini meliputi bentuk, isi, dan penggunaannya.
Dengan
jaringan internet sebagai saluran komunikasinya dan informasi interaktif yang
menjangkau seluruh dunia, peranan media baru tersebut menjadi sangat dominan.
Semua media lama akan menjadi tradisional jika tidak melibatkan diri dalam
jaringan cyberspace. Semua itu merupakan prasyarat agar media mampu
menjadi bagian dari sistem jaringan global.
Jumalisme online telah
memicu tren alternatif, mengklaim bahwajurnalisme online telah
mengubah segala aktivitas jurnalistik dan kegiatan lama profesi jurnalisme.
Sejak itu, jurnalisme online telah maju secara dramatis.
J.Pavlik
(2001) menyebut jurnalisme online sebagai “contextualized journalism”
yang mengintegrasikan tiga model komunikasi, yaitu kemampuan multimedia
berdasarkan platform digital, kualitas-kualitas interaktif komunikasi online,
dan fitur-fitur yang dapat ditata dengan berbagai variasi (costomizable
features).Dalam kaitan ini, Rafaeli dan Newhagen (sebagaimana dikutip
Santana, 2005: 137) mengidentifikasi lima perbedaan utama yang ada di antara
jurnalisme online dan media massa tradisional:
(1)
kemampuan internet untuk mengombinasikan sejumlah media
(2)kurangnya
tirani penulis atas pembaca
(3)tidak
seorang pun dapat mengendalikan perhatian khalayak;
(4)
internet dapat membuat proses komunikasi berlangsung sinambung; dan
(5)
interaktifitas web.
Dengan
berbagai ciri yang melekat pada jurnalisme online di atas, maka dapat
dikatakan bahwa secara nyata terdapat perbedaan yang cukup mencolok pada
jurnalisme online dibanding media konvensional. Dengan demikian. kelebihan
dari internet sebagai media komunikasi adalah kemampuannya dalam mengubah alur
komunikasi yang searah (dari komunikator ke komunikan) menjadi dua arah (dari
komunikan ke komunikator). Sifat interaktif inilah yang menyebabkan internet
mejadi media yang memperlebar ruang-ruang demokrasi, sebab masyarakat tak lagi
sekedar objek pemberitaan tetapi juga bisa jadi subjek.
C.
Dimensi-dimensi konvergensi media:
1.
Konvergensi Teknologi
Ketika
pertama kali mendengar kata konvergensi media, orang-orang seringkali langsung
terfokus pada konvergensi dalam bidang teknologi yang mengiringi media
tersebut. Seperti yang diungkapkan Burnett dan Marshall (2003) yang
mengungkapkan konvergensi sebagai proses penggabungan antara media, induastri
telekomunikasi dan komputasi, dan penyatuan segala bentuk komunikasi termediasi
dalam bentuk digital. Jelas, di sini Burnett dan Marshall menempatkan
konvergensi identik dengan digitalisasi, dan konvergensi sebagai imbas dari
perkembangan teknologi Web. Grant dan Wilkinson (2009) sendiri berpendapat
bahwa terdapat dua fitur perkembangan teknologi yang secara spesifik menjadi
inti perwujudan konvergensim media, yaitu: teknologi digital dan jejaring
computer.
Dari Analog ke Digital
Dari Analog ke Digital
Inovasi
utama dalam bidang teknologi, menurut Grant, ialah kemampuan media untuk
bertransisi secara virtual dari teknologi analog ke digital. ‘Dunia Analog’
ialah dunia yang selalu terwujud secara fisik, karena setiap impuls pesan, yang
berupa suara, teks, gambar, atau bunyi, memiliki jalur penerimaannya
masing-masing. Contohnya ialah radio, televisi, atau mikrofon. Perkembangan
teknologi menjadi digital memungkinkan sebuah media untuk menghantarkan segala
jenis gelombang dalam satu jalur frekuensi saja. Gambar, suara, teks, video,
dan segala jenis pesan lainnya digabung dan dimanipulasi dalam satu format yang
sama, menjadi sebuah instruksi yang terdiri dari rangkaian kode biner (angka 0
dan 1). Menurut Mirabito dan Morgenstern (2004: 21), keuntungan yang dapat
diperoleh dari penggunaan sistem digital antara lain, computer compatibility dan
integrity of the data when transmitted yang berarti kemampuan perangkat digital
untuk terhubung dan transfer data ke perangkat digital lain. Contohnya,
kamera digital, handphone, iPod, dapat tersambung ke sebuah computer. Sistemmultiplexing
memungkinkan banyak sinyal dapat ditumpangkan pada satu pemancar sehingga
lebih efektif. Sistem encoding digital juga lebih flexible sehingga data-data
yang tersimpan dapat disimpan, dimodifikasi, ditransfer, dan dimanipulasi untuk
berbagai kepentingan. Contohnya ialah gambar dari kamera digital dapat
ditransfer ke komputer secara mudah, diedit melalui Photoshop, dan dikonversi
menjadi berbagai format, mulai dari JPG, PNG, GIF, atau bahkan dirangkai
menjadi videoslideshow.
Jejaring Komputer
Jejaring Komputer
Inovasi
teknologi kedua yang menjadi titik penting konvergensi ialah persebaran
internet yang dapat menghubungkan computer dalam suatu jaringan. Dengan
terhubung melalui internet, hampir seluruh konten informasi dari media apapun,
tersedia kapanpun dan dimanapun, tanpa terbatas ruang dan waktu seperti jika
kita menggunakan media tradisional. Kini bisa saja koran dibaca dalam genggaman
telapak tangan, sambil mendengarkan musik, diselingi chatting di messenger, atau
sesekali mengupdate status via Twitter. Pagi, ataupun sore, sambil duduk
bersantai di rumah, atau ketika terjebak macet dalam mobil. Semua itu mungkin
dilakukan melalui smartphone.
Dengan dua fitur terpenting teknologi ai atas, maka jelaslah bahwa dimensi teknologi dalam konvergensi merujuk pada kemampuan teknologi digital untuk menyimpan, memanipulasi, dan memodifikasi segalam jenis informasi di dalam komputer. Dan melalui internet, segala macam perangkat berbasis komputer dapat saling terhubung untuk saling berbagi segala jenis konten informasi tersebut.
Dengan dua fitur terpenting teknologi ai atas, maka jelaslah bahwa dimensi teknologi dalam konvergensi merujuk pada kemampuan teknologi digital untuk menyimpan, memanipulasi, dan memodifikasi segalam jenis informasi di dalam komputer. Dan melalui internet, segala macam perangkat berbasis komputer dapat saling terhubung untuk saling berbagi segala jenis konten informasi tersebut.
2.
Konten Multimedia
Dari
segi konten, konvergensi media mengacu pada kemampuan untuk menampilkan
berbagai macam format konten media hanya melalui satu media saja. Contoh media
konvergen yang berisi konten multimedia ini misalnya koran online Kompas.com. Melalui
website, koran Kompas menjadi media konvergen yang dapat memuat berita dalam
format teks, suara, dan video, bahkan dapat menyediakan wadah interaktif bagi komunitas
pembacanya dalam format blog, bernama Kompasiana. Organisasi berita yang
memanfaatkan website seperti Kompas ini, disebut juga convergent journalism.
Dalam aspek jurnalisme, konten multimedia ini dapat pula menghasilkan
konvergensi newsroom, di mana satusatu redaksi dapat menghasilkan berbagai output
berita dengan konten multimedia.
3.
Kepemilikan
Konvergensi
media juga tidak bisa dilepaskan dari dimensi kepemilikan media itu sendiri.
Kepemilikan media saat ini cenderung mengarah kepada cross-ownership di mana
berbagai media seringkali tergabung dalam satu kepemilikan yang sama. Tren
kepemilikan media di Indonesia sekarang pun menunjukkan kecenderungan
konvergensi kepemilikan. Peta media di Indonesia dikuasai oleh beberapa grup
media besar, seperti Grup MNC yang memiliki RCTI, Global TV, MNC TV (televisi),
koran Sindo (cetak), dan Okezone (online), serta jaringan Trijaya FM (radio).
Ada pula grup Kompas-Gramedia yang dominan di bidang media cetak dengan
memproduksi Kompas, Warta Kota, dan Tribun, di bidang online melalui
Kompas.com, radio Sonora FM, dan saat ini berekspansi ke televisi melalui
Kompas TV.
4.
Kolaborasi
Salah
satu dimensi penting dari konvergensi ialah kolaborasi antar media. Kolaborasi
ini sifatnya berbeda dengan konvergensi kepemilikan yang biasanya cenderung
tergabung dalam tingkat newsroom. Dalam kolaborasi, konvergensi pun dapat
dilakukan oleh media yang kepemilikannya berbeda ataupun jenis medianyayang
berbeda. Konvergensi yang dilakukan biasanya berupa sharing content atau saling
berbagai informasi di tingkat penyajian. Contoh kolaborasi ini misalnya
kolaborasi antara headline berbagai koran nasional yang biasanya turut
disiarkan sebagai salah satu berita di acara Apa Kabar Indonesia di TV One.
Atau ketika berita ramalan cuaca di televisi turut dimuat di koran esok
paginya.
5.
Koordinasi
Dalam
dimensi koordinasi, media-media yang berbeda kepemilikan bisa saja kerja sama
seperti halnya media-media yang tergabung dalam satu kepemilikan. Konvergensi
yang dilakukan dapat berupa sharing informasi, atau saling memanfaatkan
fitur-fitur lain yang menguntungkan kedua belah pihak. Contoh konvergensi
koordinasi antar media misalnya Kantor Berita Gabungan ONANA (Organization of
Asia News Agencies) yang berisi kantor-kantor berita di negara dunia ketiga,
yang berfungsi sebagai sarana pertukaran berita lokal di negara masing-masing
anggota. Meskipun demikian, ONANA tidak dapat bertahan lagi sekarang karena
tidak dikelola secara professional. Contoh lainnya ialah kerjasama antar-website
dalam satu interest, misalnya website AirAsia bekerjasama dengan website Hotel-hotel
di seluruh dunia untuk saling mempromosikan produknya. http://konvergensi.komunikasi.or.id/5/post/2011/09/teknologi-5-dimensi-bernama-konvergensi.html
tersedia online [18 April 2013]
D.
Sisi Positif dan Negatif Konvergensi Media
Konvergensi
media juga memiliki memiliki sisi
positif dan negatif.
Sisi positifnya yaitu :
-
Konvergensi media memperkaya informasi secara meluas tentang seluruh dunia
karena ada akses internet
-
Memberikan banyak pilihan kepada masyarakat pengguna untuk dapat memilih
informasi yang diinginkan sesuai selera, contohnya saja adalah televisi
interaktif dan televisi multisaluran dimana pengguna memilih sendiri program
siaran yang disukai. Sehingga penggunaan teknologi
Konvergensi
menjadi lebih personal.
-
Lebih mudah, praktis dan efisien. Tidak perlu punya dua media kalau ternyata
bisa punya satu media dua fungsi.
-
Timbulnya demokratisasi informasi dimana semua orang bisa mengakses informasi
secara bebas dan luas dengan berbagai cara dan bentuk
-
Dalam implikasi ekonomi, konvergensi berpengaruh terhadap perusahaan dan
industri teknologi komunikasi karena mengubah perilaku bisins. Keuntungan yang
didapat dari hasil konvergensi media sangat menguntungkan dan memajukan
perusahaan. Selain itu, mudahnya akses informasi membuat industri dan perusahaan
semakin mudah dan cepat mengantisipasi
Tantangan
kebutuhan baru konsumen serta persaingan yang ketat
-
Interaktif. Masyarakat bisa langsung memberikan umpan balik terhadap
informasi-informasi yang disampaikan. Media konvergen memunculkan karakter baru
yang makin interaktif, dimana penggunanya mampu berkomunikasi secara langsung
dan memperoleh teknologi manusia.
- Masyarakat mendapatkan informasi lebih cepat. Contohnya, para pembaca berita online hanya dengan mengklik informasi yang diinginkan di komputer konsekuensi langsung atas pesan (Severin dan Tankard, 2001: 370).
- Masyarakat mendapatkan informasi lebih cepat. Contohnya, para pembaca berita online hanya dengan mengklik informasi yang diinginkan di komputer konsekuensi langsung atas pesan (Severin dan Tankard, 2001: 370).
Sisi negatifnya yaitu :
-Perubahan
gaya hidup masyarakat yang menjadi kecanduan teknologi (cybermedia dan
cybersociety). Adanya ketergantungan dimana segala sesuatu menjadi serba
praktis dan otomatis. Menurut saya teknologi yang praktis memang bagus karena
mempercepat dan memudahkan, namun hal ini juga bisa menjadi buruk jika kita
tidak bijak Karena dengan adanya praktis
kita cenderung menjadi orang yang “malas” dimana segala yang otomatis akan
mempercepat hilangnya pekerjaan karena pekerjaan manusia sudah bisa digantikan
dengan teknologi yang canggih
-
Munculnya masyarakat digital/ masyarakat maya. Kemajuan teknologi konvergensi
yang maju telah mempersempit jarak dan mempersingkat waktu. Jarak dan waktu
sudah bukan masalah lagi, misalnya media lainnya tanpa perlu bertemu langsung.
Hal ini menimbulkan masyarakat maya dimana komunikasi langsung secara face to
face sudah tidak diminati lagi. Pendapat saya ini diperkuat dalam buku berjudul
anda di Eropa dengan saya di Asia bisa saling berkomunikasi saat itu juga
melalui internet atau Handbook of new media: social shaping and social
consequences of ICTs, dikatakan bahwa media konvergen menyebabkan derajat
massivitas massa berkurang, karena komunikasinya makin personal dan interaktif
(Lievrouw dan Livingstone, 2006: 164).
- Media cetak/media tradisional/media konvensional mulai kalah dengan media modern atau media baru /online
- Media cetak/media tradisional/media konvensional mulai kalah dengan media modern atau media baru /online
-Kesenjangan
social yang semakin besar. http://sahira.blog.binusian.org/2011/04/15/response-konvergensi-media/tersedia
online [18 April 2013]
BAB III
Kesimpulan
Konvergensi
media merupakan bukti kedinamisan dunia yang selalu mengalami perubahan.
Perkembangan yang terjadi memang akan menghasilkan masyarakat yang modern
apalagi dengan konvergensi media ini. Jangan sampai kemajuan besar-besaran yang
canggih menjadi terlalu bebas sehingga tidak mempertimbangkan dan memperhatikan
nilai sosial budaya, nilai moral dan etika yang ada di masyarakat. Perlu
diingat pula bahwa teknologi hanya membantu memudahkan aktivitas masyarakat,
bukan berarti menjadi mendarah daging sampai ketergantungan teknologi. Contohnya
karena ada media konvergen, manusia jadi cenderung “malas” dan serba praktis.
Maka dari itu kita harus pintar dan bijaksana dalam menggunakannya serta
berhati-hati agar tidak terjebak dalam hal ini.Munculnya konvergensi media ini
juga menyebabkan persaingan antara media konvensional dan juga digital.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar